executive-coach-robby-cahyadi

Apakah Anda saat ini familiar dengan istilah coaching?

Apakah yang membedakan coach dengan trainer dan mentor?

Apakah semua trainer adalah mentor dan juga coach?

Nah, pembaca yang berbahagia, izinkan saya kali ini sedikit berbagi informasi kepada Anda semua tentang apa yang sebenarnya membedakan proses coaching, training, mentoring, consulting, dan counselling.

Mungkin telah banyak tulisan yang membahas tentang perbedaan antara lima pendekatan Sumber Daya Manusia (SDM) ini. Namun saya merasa perlu juga membagikan, dikarenakan masih banyak juga rekan-rekan saya, sahabat-sahabat saya yang masih berbeda persepsi tentang kelima proses tersebut.

Yang sering terjadi adalah kesalahan dalam penyebutan kegiatan, atau bahkan pemaknaan, baik dari proses, maupun penyebutan dari orang-orang yang terlibat. Misalkan dalam sebuah kegiatan yang berjudul training, namun orang yang memberikan materi dipanggil mentor, atau bahkan dipanggil coach. Apakah ini salah? Bisa jadi tidak sepenuhnya demikian. Apakah trainer tidak bisa menjadi konsultan atau coach sekaligus? Siapa bilang tidak bisa? Namun yang ingin saya jelaskan disini adalah, bahwa adanya perbedaan-perbedaan mendasar diantara lima pendekatan pengembangan SDM tersebut, dan masing-masing pendekatan tersebut dilakukan oleh orang yang professional dan masing-masing memiliki prinsip kerja dan kode etik yang juga berbeda.

Untuk mengetahui perbedaannya, saya akan uraikan kelimanya dalam pengertian-pengertian sebagai berikut:

Training

Merupakan proses pengembangan SDM yang didalamnya ada tahapan transfer ilmu dari seorang yang disebut trainer, dan biasanya bersifat formal. Ilmu yang diberikan kepada trainee berbentuk soft skill ataupun teknis yang nantinya akan bermanfaat bagi profesi mereka kedepannya.

Mentoring

Pendekatan yang satu ini dilakukan oleh seorang mentor yang telah berpengalaman di bidang yang sedang dibahas. Yup, karena syarat menjadi seorang mentor adalah, ia telah melewati profesi dan proses yang sama, dan ilmu serta pengalamannya itulah yang akan ia bagikan kepada mentee.

Consulting

Seorang konsultan membantu mencarikan solusi atas situasi yang tengah dihadapi kliennya. Pada tahap awal, konsultan akan mengumpulkan informasi, dan dari informasi tersebut, konsultan akan mengolahnya menjadi langkah-langkah yang bisa diaplikasikan oleh klien sehingga bisa menyelesaikan persoalan yang ada.

Counselling

Proses didalam konseling biasanya dekat dengan kejiwaan dan mental. Fokus pembahasannya adalah situasi hari ini yang merupakan pengaruh dari apa yang dialami di masa lalu. Dan untuk memperbaiki situasi ini, proses terapi konseling diberikan untuk memperbaiki pengalaman masalalu tersebut, sehingga klien bisa kembali siap untuk melanjutkan kehidupannya tanpa beban dari situasi seperti sebelumnya.

Coaching

Nah, kalau diatas saya sudah jelaskan tentang empat pendekatan pengembangan SDM, menurut Anda akan seperti apakah coaching ini? apakah penyempurnaan atau penggabungan empat pendekatan tersebut? tentu jawabannya bukan. Melainkan, coaching sama sekali berbeda dengan ciri empat pendekatan diatas. Jika training dan mentoring identik dengan transfer ilmu, maka dalam coaching sama sekali tidak ada transfer ilmu baru dari coach kepada coachee. Coach tidak mengajarkan apapun, dan coach tidak berbagi pengalaman apapun. Sebaliknya coach akan menggali apa-apa yang telah menjadi skill dan pengalaman yang telah dimiliki coachee untuk menyelesaikan situasi yang tengah dihadapi.

Seorang coach juga bukan merupakan mentor yang punya segudang pengalaman, ataupun konsultan yang punya banyak solusi dari permasalahan. Coachee lah yang lebih memahami situasi yang ia hadapi, untuk itu, coach dengan kompetensi eksplorasinya yang kreatif, akan mengajak coachee untuk merefleksikan situasi yang dihadapi, sesuai dengan pemahaman dan pengalamannya, sehingga akan muncul peluang-peluang baru yang mungkin akan dipilih oleh coachee itu sendiri.

Berbeda dengan konseling, coachee fokus dengan tujuan yang ingin dicapai, bukan fokus dengan masa lalu. Coaching tidak terlalu mementingkan penyebab terjadinya sebuah situasi, apa yang melatarbelakangi kejadian tersebut, akan tetapi coaching akan berusaha menemukan gap antara situasi saat ini, dengan goal yang ingin dicapai, serta menemukan peluang untuk menghilangkan gap tersebut.

Coaching berjalan sebagai sebuah percakapan yang indah, terstruktur, dengan tujuan yang bisa diukur. Melalui pertanyaan-pertanyaan eksploratif yang diajukan oleh coach, proses belajar berlangsung di dalam pemikiran coachee, sehingga terbangun kesadaran, peluang, hingga rencana aksi, dan juga tentunya dikunci dengan komitmen yang semua itu muncul dari dalam diri coachee, tanpa ada intervensi dari luar.

Coach akan membantu coachee untuk menetapkan goal, menciptakan peluang-peluang baru, serta menetapkan sendiri deadline, sehingga proses perkembangan yang dialami coachee berlangsung dengan fun, tanpa ada tekanan dari pihak yang terkadang justru akan melemahkan motivasi.

Demikian ulasan singkat saya mengenai lima pendekatan pengembangan SDM, kelima pendekatan ini bagus jika diaplikasikan pada situasi yang tepat. Dan yang terpenting, penggunaan bahasa dan istilah tentang lima pendekatan ini bisa digunakan juga sesuai pada tempatnya.

Semoga Bermanfaat.

Saya akan sangat senang jika kita bisa mendiskusikan secara lebih detail strategi pengembangan SDM ini dengan Anda, baik melalui kolom komentar, atau melalui jalur pribadi seperti mesenjer dan email.

Silahkan klik disini untuk mendapatkan sesi coaching perdana Anda.

Terima kasih,

 

Sampai Jumpa dalam Sesi Coaching yang Penuh Makna.

Robby Cahyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *